My Charm

Exorcizamus Tae Omnis Immundus Spiritus Omnis Satanica Protestas Omnis Incursio Infanili Adversarii Omnis Legio Omnis Congregatio Et Secta Diabolica

Senin, 25 Januari 2016

SUPERNOVA

Zarah berada di depan bukit Jambul. Matanya terbelalak. Kedua bola matanya melihat sosok enam orang manusia. Wajah senang, gugup dan khawatir menyembul dari air muka mereka. Semua mata melihat Zarah. Dengan tas carrier, keenam anak manusia itu berhasil berada di bukit Jambul. Zarah adalah yang terakhir.  Dimas, Reuben, Ferre, Bodhi, Elektra dan Alfa. Mereka semua sudah berkumpul.
“Kalian semua? Aku bahkan….”
“Sudah. Silahkan, Zarah. Kau adalah pemegang kunci. Kita akan memasuki portal itu”, ucap Ferre ringan dengan seutas senyum lembutnya.
“Alfa? Kamu Alfa kan?”, tunjuk Zarah ke arah Alfa. Alfa hanya menggangguk.
“Aku lah yang mengirim pesan mimpi kepada kalian semua. Kami sudah berkumpul sebelumnya,  Zarah. Kau yang terakhir. Kau sang kunci. Kau adalah Partikel. Hanya kau yang tahu dan bisa merasakan portal itu. Kita harus kesana segera!”, ucap Alfa serius. Zarah mengangguk. Zarah langsung memimpin jalan. Mereka berada di depan portal. Zarah menaikkan lengannya dan telapak tangan di udara. Bayangan putih terlihat. Angin dan gemuruh mulai menggelora. Mata mereka melihat sinar cerah dan membentuk satu lingkaran besar dengan cahaya hitam ditengah.
“INI SAATNYA! Bintang Jatuh sudah menunggu kita. Kita akan melihat ASKO yang sebenarnya!”, ucap Ferre lantang. Mereka berpegangan tangan. Nafas mereka sedikit sesak, dan seketika menghilang.  

Sabtu, 20 Desember 2014

Dua Tahun Terakhir, My Black and White Christmas

Natal itu seharusnya indah. Nyaman dan teduh. Merasakan adegan yang sangat mengharukan. Memutar roll film yang selalu terbersit di otak. Membayangkan sakitnya Yesus dilahirkan. Secara gampang, Natal adalah lahirnya Juruslamat. Secara detail, kisahnya menceritakan kesedihan yang mendalam. Yah, dua tahun belakangan ini, Natal rasanya hambar. Seperti ada dinding yang retak tetapi tidak mau, atau belum bisa roboh. Atau seperti rantai yang sudah berkarat dan tua, tetapi masih menginginkan kungkungan eratnya disana. Dimana? Di hati ini, di perasaan ini. Yup, manusia memang tidak akan pernah berhenti bermasalah. Aku pun percaya akan kesialan. Percaya penuh kepada lingkaran, siklus. Dulu kami bahagia saat Natal tiba. Rasanya memakai baju baru, celana baru, kaos kaki baru dan sepatu baru. Menunggu giliran di gereja melantangkan liturgi yang sudah dihapal dua bulan sebelum harinya. Satu yang sangat aku ingat, Bapak Mamak memang ingin anaknya tampil, pengen eksis. Hampir disetiap Natal, aku dan abangku dan semua adikku disuruh berpuisi, atau dulunya Mamak sering bilang, "Deklamasi". Tentu saja, ada beberapa gerakan tangan yang membuat penonton terdiam melihat. Diantara mereka kebanyakan tidak takjub dengan isi deklamasi tersebut. Mereka takjub dengan kebaranianku saja. Satu penggalan deklamasi saat aku kecil. Eh, salah bukan penggalan, tetapi keseluruhan. Deklamasi Singkat.

                                         NATAL
Disini Natal,
Disana Natal,
Dimana-mana ada Natal,
AMEN

Selesai. Orang-orang berseru karena singkatnya isi deklamasi. Mereka tertawa bukan mengejek, tetapi terhibur dan menyoraki keberanianku. Tidak sedikit dari mereka memberitahu anaknya bahwa tahun depan harus maju ke depan, seperti aku kala itu. Setiap tahunnya, layaknya sudah mendarah daging, aku tetap berdeklamasi. Yang membuat beda adalah tingkatannya. Di SD kelas 6, saat terakhir aku mau maju ke depan, sebelum rasa malu mendatangi, aku bedeklamasi bahasa inggris. Satu hal yang cukup menakjubkan. Membuat mata orang melihat tetapi telinga tidak mengerti. Kala itu sangat hening, tidak ada suara orang berbisik. Takjub. Melihat gerakan bibirku dan alunan tanganku. Otomatis 90% dari mereka tidak akan mengerti apa yang keluar dari mulutku. Termasuk bapak mamakku. Terima kasih kepada guru les ku yang sudah menyiapkan puisi keren itu. Hahahaha. Aku pun takjub melihat orang yang takjub melihatku. 

Itu dulu, sekarang berbeda. Kami semua sudah dewasa. Bapak banyak masalah. Hanya saja aku berharap, Natal tahun depan tidak sesulit ini. Iri terhadap keluarga lain sudah pasti, melihat mereka bisa berkumpul, sukses dan pulang dengan wajah-wajah bahagia. Harapanku banyak. Semoga abangku bisa memutar otaknya agar lebih berpikir dan melihat. Semoga adik-adikku juga belajar mengontrol egois. Aku juga harus belajar membalas. Membalas apa yang aku dapat selama ini. Semoga aku bisa membalas secepatnya. Tidak ada salahnya berharap. Natal 2014, like again, my black and white Christmas. Aku pengen warna-warni di Natal selanjutnya. Aku pengen merasakan Natal yang indah, setidaknya hampir sama ketika aku kecil dan berani maju berdeklamasi. Aku terlalu percaya bahwa semua sudah berputar. Kami sedang mengayuh roda hidup. Mencari dan mengumpulkan yang hilang. Even I feel this feeling, let's enjoying this Xmas, although Xmas in Jakarta not better than Xmas in Tarutung or Jember, maybe. 

Selasa, 02 Desember 2014

Hark! The Herald Angles Sing

Satu kata buat lagu ini "merinding". Apalagi pas mariah carey menyanyikannya dengan tambahan Gloria In Exelcis Deo. GILA. Rasanya Natal udah besok ajaa. Desember memang selalu memberi rasa berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Ada rasa yang sangat beda, degdegan dan haru. Versi indonesia lagu ini juga ga kalaj bikin hati tenang. It's make me feel like in my hometown. Tarutung. Natal disana emang beda, rasanya sangat beda. Ngeliat semua gereja-gereja akan buka dari tanggal belasan. Parade Natal, pameran Natal,  kota Tarutung yg mungil bak Christmas Wonderland, absolutly without snoww, but it doesnt matter. Angin akhir tahun di Tarutung udah cukup membuat semua manusia disana harus memakai sweater tebal dan sarung tangan. Kalo bisa dibilang, dinginnya nyengat. Tapi dinginnya pas dengan suasana Natal yg syahhduu, aseekkk, for all you, have a blessed month and waiting for His born. HARK! THE HERALD ANGELS SING, GITA SORGA BERGEMA.

Minggu, 18 Agustus 2013

Sejarah Ompu Tuan Namarngingi Hutapea

Ompu Tuan Namarngingi adalah leluruh dari marga Hutapea Unok. Secara silsilah, Tuan Ompu Namarngingi adalah cucu dari Siraja Unok. Secara garis besarnya, beginilah silsilah  Raja Unok:


Dari silsilah tersebut, Raja Unok memiliki 4 orang anak, yaitu Radja Ompu Runggu, Radja Isorba, Radja Ompu Tuan Namarngingi, dan Radja Boltok Martua. Ompu Tuan Namarngingi ketika lahir telah memiliki gigi yang lengkap dan terlahir dengan dibalut oleh tali pusar ibunya. Karena kesaktiannya sejak dilahirkan, maka dia diberi nama Namarngingi (telah mempunyai gigi saat lahir).  Ompu Tuan Namarngingi dikenal sebagai pribadi yang tekun, pintar dan pemberani. Ia memiliki kesaktian, yang memang pada zaman tersebut, kesaktian merupakan satu harta yang sangat penting dan sebagai tingkatan harga diri seseorang. Ketika masih muda, Ompu Tuan Namarngingi ingin belajar menjadi datu (dukun). Dukun merupakan salah satu tingkatan sosial, yang menunjukkan kewibawaan dan pengetahuan akan seseorang di zaman tersebut. Dukun menjadi profesi yang dibutuhkan masyarakat, baik sebagai penyembuh penyakit, mengusir hal-hal jahat, mencari hari baik, dan lain-lain. Karena keadaan dulu yang masih mempercayai hal mistis (sipele begu), maka banyak orang belajar agar dapat menjadi dukun yang sakti.

Karena keinginannya tersebut, maka Ompu Tuan Namarngingi berencana untuk mencari guru, agar mendapatkan kesaktian dan dapat menjadi dukun. Ayah dan saudara-saudaranya pun setuju akan rencana tersebut, terlebih lagi karena menjadi orang pintar/dukun dianggap menjadi orang terpandang, dicari orang dan menjadi panutan bagi masyarakat. Akan tetapi semua saudaranya sudah menikah, sehingga mereka menjadi dilema, dan mengharapkan Ompu Tuan Namarngingi juga segera menikah. Dengan nada bercanda, saudaranya mengatakan "Aek ni simpirsimpir pamurian ni holiholi, sai holan mardalani do ho Ompu Tuan Namarngingi, alai sai matua dolidoli". Saudaranya menganggap Ompu Tuan Namarngingi terlalu banyak berkelana sehingga lupa untuk mencari pendamping hidup. Setelah mencari kabar mengenai guru yang sakti, Ompu Tuan Namarngingi menemukan seorang guru di daerah Pea Langge, yaitu Ompu Tuan Djujur marga Lumbantoruan. Pada akhirnya, Ompu Tuan Namarngingi tidak lama telah menguasai kesaktian yang diajarkan Ompu Djujur, bahkan mereka menjadi sangat akrab, sehingga sudah menjadi saudara walau tidak sekandung. Bahkan karena kesaktiannya, Ompu Tuan Namarngingi menghadiahkan satu giginya yang ditempel diatas pintu rumah Ompu Djujur.

Pada akhirnya, Ompu Tuan Namarngingi telah memiliki kesaktian dan telah menjadi dukun yang terpandang. Akan tetapi ia tetap ingin memperdalam ilmunya, sehingga ia menemui Datu Rara Simatupang. Setelah memperdalam kesaktian terhadap Datu Rara, ternyata Ompu Tuan Namarngingi menyimpan hati terhadap putri Datu Rara, yaitu Tianggur Mangisi Simatupang. Akhirnya, Ompu Tuan Namarngingi menikahi Boru Simatupang tersebut. Datu Rara menghadiahkan seekor harimau kepada Ompu Tuan Namarngingi sebagai hadiah pernikahannya. Datu Rara memberikan harimau tersebut karena kesaktiannya Ompu Tuan Namarngingi yang dapat menjinakkan harimau. Akhirnya Ompu Tuan Namarngingi dan istrinya tinggal di Rura Silindung. Mereka tinggal di desa Huta Pearaja. Dari boru Simatupang tersebut, Ompu Tuan Namarngingi memiliki 4 orang anak, yaitu Ompu Soaloon, Ompu Saniangnaga Tunggal, Ompu Sorta dan Pardodo.

Akhrinya, Ompu Tuan Namarngingi dan keluarga serta pengikutnya pindah ke suatu tempat, dan menamai satu desa, yaitu desa Huta Tindianlaut. Dari puncak pegunungan desa tersebut dapat terlihat laut Barus, sehingga dianggap cocok sebagai tempat tinggal dan bertani di tanah desa tersebut. Setelah beberapa lama tinggal disana, Ompu Tuan Namarngingi menganggap tempat tersebut tidak terlalu cocok untuk ditinggali, sehingga Ompu Tuan Namarngingi dan kumpulannya pindah ke tempat yang tanahnya luas, subur dan tenang. Tempat tersebut berada di kaki bukit Aeknasia dan Aeknapultak. Mereka memiliki daerah persawahan yang disebut Saba Jenek. Daerah tersebut kini disebut sebagai Desa Pansurbatu.

Setelah hidup tentram, Ompu Tuan Namarngingi menginginkan untuk memiliki satu istri lagi. Ia pun memadu istrinya, dengan putri seorang raja, yaitu Ompu Bulusan Situmeang. Akhirnya Ompu Tuan Namarngingi menikahi Boru Tumeang tersebut. Karena memiliki istri yang banyak adalah hal lazim di zaman tersebut, maka tidak ada rasa iri antara Boru Simatupang, istri pertama Ompu Tuan Namarngingi dengan istri keduanya, Boru Tumeang. Dari hasil pernikahan mereka, Boru Tumeang melahirkan seorang putri, yang bernama Boru Telhang di Adji. Mereka semua hidup dengan sejahtera. Akan tetapi kebahagian tersebut tidak dapat berlangsung lama.

Setelah hidup tenang, mertua Ompu Tuan Namarngingi, Ompu Bulusan, mengundang menantunya serta putrinya Boru Tumeang, untuk datang ke desa Sipoholon, rumah dari Ompu Bulusan. Ompu Bulusan mengundang mereka untuk melakukan kegiatan ucapan syukur untuk renovasi rumah Bolon-nya, serta kegiatan mencat rumah bolon tersebut. Sesuai dengan khas rumah Bolon, Gorga (ukiran) di cat dengan warna putih, hitam dan merah untuk memperindah rumah tersebut. Sedangkan Boru Telhang di Adji tetap tinggal di Tapian Na Uli dan tidak ikut dengan oangtuanya. Ompu Tuan Namarngingi dan istrinya pun mendatangi undangan tersebut. Setelah beberapa hari di Sipoholon, Ompu Tuan Namarngingi ingin melakukan perjalanan ke desa Pealangge untuk melakukan suatu urusan, sehingga ia meminta izin terhadap Ompu Bulusan, agar tidak sakit hati akan kepergiaannya disaat renovasi rumah Bolon tersebut. Ompu Bulusan mengizinkan hal tersebut, sehingga Ompu Tuan Namarngingi pergi ke tempat tujuannya.

Cat untuk gorga (ukiran) rumah Bolon tersebut harus terbuat dari darah manusia. Pada zaman dulu, mengecat rumahnya dengan darah akan mendatangkan berkat terhadap penghuni rumah tersebut, rumah akan tampak indah, bersih dan mengkilat. Darah manusia menjadi cat juga melambangkan panjang umur terhadap penghuni rumah. Tukang yang akan mencat rumah Ompu Bulusan menyatakan dengan menggunakan darah, maka rumah akan tampak bagus. Ompu Bulusan akhirnya berpikir, darah siapa yang akan ia jadikan cat rumahnya. Akhirnya ia memutuskan akan membunuh pembantu rumahnya. Seorang pembantu dianggap telah menjadi milik dari majikan, sebab dia telah dibeli oleh majikan tersebut. Ternyata, perbincangan Ompu Bulusan mengenai cat darah tersebut, diketahui oleh pembantu lainnya. Akhirnya pembantu tersebut memberitahu kepada pembantu yang akan dibunuh tentang rencana tersebut.

Disaat tengah malam, anak buah Ompu Bulusan pun datang untuk membunuh pembantu tersebut. Dengan kondisi rumah yang hanya mempunyai obor, rumah dan kamar tampak sangat samar. Ternyata pembantu tesebut tidur bersama Boru Tumeang, putri Ompu Bulusan. Pembantunya pindah kesebelah Boru Tumeang karena rencananya, dia akan dibunuh saat tidur. Kesalahpahaman ini akhirnya berujung maut. Putri Ompu Bulusan, Boru Tumeang menjadi korbannya. Sebelum dibunuh, Boru Tumeang berkata, "Ahu di Amang, borum do ahu!". Anak buah Ompu Bulusan menjawab, "Ah, Namargabus do ho!". Padahal yang menjadi korban salah sasaran adalah Boru Tumeang. Keesokan harinya, setelah hari terang, Ompu Bulusan menemukan putrinya telah meninggal dibunuh, dan pembantunya masih hidup. Ompu Bulusan pun sangat teramat terpukul. Dia menjadi bingung dan sedih atas kejadian tersebut. Berita tentang hal ini akhirnya tersebar ke segala penjuru. Akhirnya, guru dan sahabat Ompu Tuan Namarngingi, Ompu Djujur mendapat berita tersebut dan segera memberitahu kepada Ompu Tuan Namarngingi. Mendengar hal tersebut, Ompu Tuan Namarngingi menjadi sangat sedih dan marah. Dia tidak habis pikir mengapa mertuanya setega itu membunuh putrinya sendiri. Mendengar kejadian tersebut, Ompu Tuan Namarngingi langsung menemui Ompu Bulusan di Sipoholon.

Sesampainya di Sipoholon, Ompu Tuan Namarngingi langsung menemui Ompu Bulusan. Ompu Bulusan menyambutnya dengan sambutan hangat. Ompu Bulusan menunjukkan hasil cat rumahnya kepada Ompu Tuan Namarngingi sambil membawa ke dalam rumah. "Didia borumuna?", tanya Ompu Tuan Namarngingi kepada Ompu Bulusan. "Nalaho do borungku tu gadong, manangna laho muse ibana manimbanimba, alai na ro ma i satongkin nari.", jawab Ompu Bulusan. "Alai adong barita hubege taringot tu borumuna, ba, beha do sintong ni?", balas Ompu Tuan Namarngingi. "Ah, godang barita hela ndang sai sude barita i na sintong, ai adong do parbarita so sungkunan, adong do i sigoit dugul ni totna. Alai taida ma annon sintong ni barita na nidokmuna i. Molo soborungku tongkin nari laho ma hita tu balian mamereng ibana.". Ompu Bulusan meyakinkan Ompu Tuan Namarngingi bahwa istrinya masih hidup dan sedang ke ladang, Ompu Bulusan menjelaskan bahwa kabar berita tersebut hanyalah isapan jempol  belaka. Akhirnya Ompu Tuan Namarngingi merasa tenang dan yakin terhadap mertuanya. Ompu Bulusan juga menyiapkan makan malam bersama mantunya Ompu Tuan Namarngingi. Akan tetapi, Ompu Bulusan telah mencampurkan makanan Ompu Tuan Namarngingi dengan racun Tali Siolang. Setelah memakan sajian tersebut, racunnya bereaksi.Pada akhirnya, Ompu Tuan Namarngingi pun meninggal dunia.

Berita meninggalnya Ompu Tuan Namarngingi sampai kepada guru dan sahabatnya Ompu Djujur. Ia pun menangis sedih dan memberitahu kepada anak istrinya di Pansurbatu. Boru Simatupang istri pertama Ompu Tuan Namarngingi beserta putra putrinya sangat terpukul. Yang sangat terpukul adalah Boru Telhang di Adji. Seluruh masyarakat Pansurbatu pun sangat terpukul dan mereka tidak sanggup membalasa perbuatan Ompu Bulusan, karena kekuatan dan jumlah mereka yang banyak. Setelah beberapa tahun, akhinya Boru Simatupang pun meninggal karena sudah tua. Boru Telhang di Adji pun tinggal bersama Ompu Soaloon, anak dari Ompu Tuan Namarngingi dan Boru Simatupang. Boru Telhang di Adji mendapat perlakuan yang tidak nyaman dari saudaranya. Ia dikucilkan dan diperlakukan tidak baik. Akhirnya, Boru Telhang di Adji pergi menemui tulang-nya (paman) di Sipoholon. Dia mengadukan segala keluh kesahnya, akhinya pamannya tersebut menjadikan ia putrinya, dan mengganti marganya menjadi boru Situmeang.

Setelah hal tersebut, Boru Telhang di Adji yang menjadi boru Situmeang menikah dengan marga Simanjuntak. Pamannya lah yang menjodohkan mereka. Akan tetapi, Boru Telhang di Adji tetap mengingat bahwa dia adalah boru Hutapea dan merupakan putri Ompu Tuan Namarngingi. Setelah memiliki keturunan, pada akhirnya Boru Telhang di Adji mengakui bahwa dia adalah boru Hutapea, bukan boru Situmeang. Anak-anaknya pun terkejut dan pada akhirnya dapat menerima kejadian tersebut.

Itulah yang menjadi kisah nyata leluhur dari Hutapea yang tinggal di Pansurbatu, Tarutung. Ompu Tuan Namarngingi adalah pendiri desa Huta Pansurbatu. Kesaktiannya menjadi tersohor, dan sampai sekarang banyak mitos yang menyebutkan di tombak (hutan) di Pansurbatu banyak harimau yang merupakan jelmaan Ompu Tuan Namarngingi. Makam Ompu Tuan Namarngingi terdapat di desa Pansurbatu. Hingga saat ini terdapat larangan akan pernikahan antara marga Hutapea keturunan Ompu Tuan Namarngingi dan Situmeang keturunan Ompu Bulusan. Hal ini terjadi karena ketidakrelaan marga Hutapea atas terbunuhnya Ompu Tuan Namarngingi.

Akan tetapi penentangan akan pernikahan Hutapea Namarngingi dan Situmeang Bulusan telah pernah terjadi, yaitu orangtua saya sendiri. Ayah saya, J.Hutapea merupakan keturunan Ompu Tuan Namarngingi, dan ibu saya, D. br Situmeang adalah keturunan Situmeang Bulusan. Pernikahan mereka awalnya ditentang, khususnya dari marga Hutapea Pansurbatu yang masih menganggap pernikahan tersebut salah dan tidak boleh terjadi. Mereka berasumsi, pernikahan mereka akan berakhir dengan kesusahan. Setelah melakukan musyawarah, akhirnya orangtua saya menikah, dimana ibu saya tidak mendapatkan tuhor (tidak dibeli), dan mereka pun menikah. Hingga saat ini, orangtua saya memiliki 5 orang anak, 4 laki-laki dan 1 perempuan, semuanya lahir dengan normal dan hidup sejahtera, dan saya anak nomor 2, ^-^.

Demikian cerita atas kisah nyata leluhur kami zaman dahulu. Cerita tersebut saya terjemahkan dari tulisan Guru Djisman Hutapea. Dialah penulis cerita Sejarah Ompu Tuan Namarngingi.

Kamis, 26 Juli 2012

My new family KKT Kaliglagah Village :)

45 hari itu lama ga menurut kalian??? Sumpah,,mikirinya aja bikin kuesel!!!!Ga nyangka aku dapat KKT (Kuliah Kerja Terpadu) a.k.a harus terjun ke desa yan nan jauh di mato. Gila,,Jember-Sumberbaru itu sekitar 1/5 jam naek motor. Apa pantat ga panas yak. Belum lagi dari Kec.Sumberbaru ke Desa Kaliglagah sekitar 20 menit. --" kurang jauh apa nih desa,,naik gunung lagi,,,hoadoohhhh....Survei pertama ke Desa ini udah buat kepala pusing 20 keliling. Jauhnya ga karuan. Tapi mau ga mau harusss dijalani. 
Hari pertaman nyampe posko di rumah Pak Karno. Ane dan keEnam teman ane mulai menempati rumah. Aku, Nia, Ngurah, Windy, Andika, Luki dan Ita dengan wajah yang ngantuk nyampe Villa (bkakakakakakakakakaakk). Si Huda masih dalam keadaan sakit di Jember, jadi dia dateng 2 hari kemudian. Kesan pertama tinggal bersama manusia-manusia ini masih adem ayem. Masih jaim - jaimanlah. Disinilah aku mikir bahwa 45 hari itu adalah LAMA!!! Ga betah blass,,tapi jujur,,hari demi hari kita bareng, sampe detik ini yang KKT kurang 2 minggu lagi ga kerasa lama. Disini keliatan semua wujudnya, yang pendiam bisa berubah jadi ceria. KKT buatq bukan kuliah,tetapi liburan,makan enak dan hidup nyaman. Serius dah,,aku betah banget disini. Manusia2 disini juga lucu2. Berhubung sekecamatan sumberbaru, kelompok kami yang paling beragam. Aku dari Medan, orang Batak and Kristen. Si Ngurah orang Bali, beragama Hindu. Lainnya Muslim. Disini kita bertukar Budaya masing-masing. Dan satu kata paling indah yang sering kami sebut satu sama lain adalah "BODAT",,hahahahahahaaa. Gara-gara aku sering manggil BODATTT,,semuanya jadi ikutan nyebut BODATTTT,,hhhahaa..Sebelummnya yaa,,aku jelasin dulu manusia-manusia yang hidup di rumah ini,,eh Villa ini (*bkakakakakk), yaitu:


1. Saya sendiri, Eric P Hutapea
Wong Batak asli Medan yang ngomongnya, ketawanya kenceng. Semua penghuni bakal cekikian kalo udah denger saya ketawa...hhahaaa. Pangkat saya disini adalah ketiga tertinggi. Karena saya adalah salah sato CHEF MASTER di KKT ini. Masakan balado saya dan sayur sawi tumis saya menjadi andalan disini,,hhhhaa. Saya juga adaah MASTER BULLY. Saya paling seneng bikin temen2 saya kesel dan mati kutu,,hhhaa (biasalah orang batak,banyak ngomongnya, parbada muncung). Saya paling jarang dibulli, kecuali gara-gara nama tengah saya, Eric P Hutapea, Pernandoo,,,,,mak eeee..kok ga Fernando namaku,,kok P depannya ><.
Tapi saya adalah pelawak di tempat ini, kalo kata Mami Ita, ga ada saya sepi dan ga seru,,,(ahh,,maca cihh) :D


2. Hasniah a.k.a Bodat Nia
Ini adalah salah satu team bodat konco saya ngebulii orang,,hahahahaa,,,Dia orangnyaa baik, temen akrab pacar saya (bkakakakakakak) dan juga teman saya kemana-mana,,udah klop lahh,,ngebulii orang, gojlokin orang,,hhhaa. Hal paling bodat sedunia adalah ketika aku dan Nia tweet2an malem2 dalam satu rumahh,,bodat banget yaa,,--". hhahaaaaaa,...Dia juga sangat rajin, ngepel, cuci piring, bantu masak (bantu ajaloh ya :p), dan rajin sholat.:), saya senang melihat wanita2 disini rajin Sholat semua, keculai keDua pria disamping saya,,hhhahaaaa.


3. I Ngurah Gusti Dharma Putra a.k.a Bodat Ngurah a.k.a Ontaaa
Ne adalah salah satu personil yang sangat sering dibulii,,Dia adalah Kordinator Desa kami, a.k.a pemimpin di desa kami, tapi kastanya paling bawah loh disini,,bakakakakak,.Dia sering kena bulli,,karena kadang salah ngomong, ngomongnya pelan dan membingungkan. Di awal2 KKT, kalo dia ngomong, kita harus nanya sampe 3 x baru ngerti maksudnya, tapi kalo sekarang, udah bisa ngertilah apa maksudnyaaa,,hhahaaaa,...Pertama ketemu aq dah mikir kalo nih orang pasti sombong,,eh ternyata jauh dari dugaan, malah dia itu konyol, sama seperti sayaa,,jadi konyolnya nyambung....wkkkkk,,Tapi kalo ga ada si Onta di posko ga seru, cause ga ada yang bisa di Bulli,,hahahahahahah


4. Windy Ika Lestari a.k.a Windy Bodat
Ini adalah mahasiswi FKG yang sedang melakukan penelitian. Dia nih pelihara TIKUS,,jijijkkkkkkkk,,hahahaa,,tapi Tikusnya buat peneitian di lab. Ne orang selalu melihat fisik orang dari GIGI nya, ga artis, ga orang yang dia lihat, pertama yang dikomen adalah GIGInya, wkwkwkwkk,,,paling deket ma si Onta, jadi sering di CieCie ma anak2 yang bimbel di posko. Dia neh kalo ketawaaa,pasti tanjak gas dulu baru turun gas,,sering Shock denger tawanya dia...hhahahahaaaa,,,,orangnya juga rajin Sholat,,Soleha lahh (bkakakakakak)


5.Andika Putra a.k.a Bodat Balga
Ini bodat paling tinggi besar diantara lainnya. Bodat keturunan Chinese ini paling baik sedunia (walaupun sering ngebullii juga). Dia udah berapa x bayari kita makannn,,hahaa..Paling spektakuler pas dia traktir kita buka puasa di Lumajang. Muanteeeppp polllllllll. Dia neh selalu puasa ful, mantap,,tapi rokokknya ituloh,,satu hari bisa 3 PAKK!!! huadoohhh --", Tapi orangnya baik hati lahhh,,,hhhhaa


6.Fathur Rohma a.k.a Mami Ita
Ini adalah mami di klmpok ini. MASTER CHEFnya lahhh.Kedudukan tertinggi ada pada dia. Awal-awal KKT, Ita sangat pendiam, kurang mau berbaur,,ehh,,setelah ketemu saya, dia ga bisa berhenti KETAWA.,,,,dia malah seneng banget bisa kenal saya (banggaa). Orangnnyaa sangat baik hati, sering masakk dan selalu pengen bikin senang penghuni KKT. Ga pernah kelaperan dah kami ini. :)


7.Luki Rani Ervita a.k.a Luki Bodat
Ini cewe paling sering kena bulli,,orangnyaa lalai banget and sangat pelupaa barang. Kadang HPnya di dapurlah, ruang tengahlah,diatas tvlahh,,,selaluu dahh teledorr,,apalagi modem smartfrennya ilang ntah dmana,,hhhaaa. Dia sering dibulliii and diCieCie in ke Huda.,,hhaaaaa,,Luki juga enak diajak diskusi.Sering banget belajar dan buat karya ilmiah,,hhhahaa


8. Miftahul Huda a.k.a Bodat Madura
Ini adalah translater madura kami di desa ini. orangnyaa guejjeee,,hahaaa,,kalo bikin lucu2an pasti deh *krik krik krik. Dia ga cocok pake b.Indonesia,,,pasti ga enak di kupinggg,,hhhaa.Orangnya kadang2 ilang ga jelass,kadang2 guyon geje..hahaaa,,dia paling seneng pokerr nehh,,hhhaaa,,,


Itu dia kedelapan manusia penghuni KKT UNEJ di Desa Kaliglagah, Sumberbaru, Jember...neh fto2 kamiii :



































Jumat, 04 November 2011

One Of Us

Pernah gak kita berpikir lebih dalam siapa Tuhan itu sebenarnya? Apakah Dia memperhatikan kita, menjaga kita bahkan disaat kita sedang tertidur lelap. Kitalah yang percaya siapa Tuhan kita. Berbagai agama di dunia ada dengan berbagai Tuhan yang berbeda. Sebagai orang Kristen, kita adalah pengikut Kristus Yesus, yang menjadi Tuhan kita yang hidup. Dalam kehidupan sehari - hari, kita pasti pernah merasakan tanda kehadiran Tuhan. Kita pasti pernah terluka, lemah dan butuh bantuan. Apakah kita merasakan kehadiran Tuhan. Cukup percaya saja, Dia sudah ada bersama kita all day. Tuhan itu SATU DALAM KITA. Banyak kejadian yang terjadi di dunia ini yang harus kita syukuri. Banyak pengalaman kehidupan yang dapat kita percaya. Terkadang sesuatu yang kita rencanakan gagal, tapi percaya pasti ada jalan menuju sesuatu tersebut. Jujur, saya bukan orang yang senang membaca Alkitab, mengetahui seluruh isi Alkitab. Akan tetapi saya punya satu lagu yang bisa menggelitik kita "One Of Us" yang dinyanyikan oleh Joan Osboren. Ini liriknya :
                                    
                                              One Of Us

If God had a name what would it be?
And would you call it to his face?
If you were faced with Him in all His glory
What would you ask if you had just one question?

And yeah, yeah, God is great
Yeah, yeah, God is good
yeah, yeah, yeah-yeah-yeah

What if God was one of us?
Just a slob like one of us
Just a stranger on the bus
Tryin' to make his way home?

If God had a face what would it look like?
And would you want to see if, seeing meant
That you would have to believe in things like heaven
And in Jesus and the saints, and all the prophets?

Back up to heaven all alone
No, nobody calling on the phone
No, just tryin' to make his way home
Nobody calling on the phone
Except for the Pope maybe in Rome


Mari kita lihat isi lirik dari lagu ini. Di bait pertama dijelaskan, bagaimana jika Tuhan punya nama layaknya kita manusia. Bagaimana jika Tuhan berhadapan langsung dengan wajah kita, pertanyaan apa yang ingin Anda tanyakan? Dari bait tersebut jelas bahwa tidak mungkin Tuhan berhadapan langsung dengan kita, tapi mari kita anggap itu mungkin terjadi. Tuhan berwujud menjadi manusia, menatap kita, melihat kita bahkan mengetahui segala kekurangan kita. Siapa yang tahu, bukan ? Tuhan bisa jadi salah satu diantara kita, seperti dijelaskan pada bait ketiga. Bagaimana jika Tuhan menjadi orang asing yang berada di bus yang kita tumpangi, memperhatika kita, menuntun kita, siapa yang tahu, bukan? Bahkan dibait tersebut dituliskan "Just a slob like one of us". Apakah kita sering memperhatikan para pengemis yang miskin, yang membutuhkan makanan? Apakah kita sudi memberikan sedekah kepada mereka? Bagaimana jika "slob" tersebut adalah Tuhan yang kita percaya, yang sudah memberikan apapun pada kita, sedangkan kita tidak memberinya apa-apa karena Dia hanya berwujud sebagai gelandangan ataupun pengemis. Mari bercermin teman - teman. Bahkan dibait keempat dipertanyakan "jika Tuhan memiliki wajah, wajah seperti apa yang Anda harapkan?" Apakah harus mirip dengan Yesus? Atau dengan semua rasul? Tidak! Yesus bisa saja berwujud sebagai seorang "slob" yang membutuhkan kita untuk memberi sedekah. Yesus bisa saja orang asing di bus dan menemani kita sampai kita pulang dengan selamat. Jadi teman - teman " God is Great, God Is Good", don't expected that God must be like what we want, but believe Him and try to share your life in this earth with helping God with our faithful heart. Bantu mereka yang "butuh", karena Tuhan pun ada dalam mereka, cause " God Is One Of Us",,,,,ojo lali download lagunya ya,, :), God Bless.

Senin, 15 Agustus 2011

MEMBEBANIKU

MEMBEBANIKU

Sesaat kupandang wajahmu

Membuat hatiku mencari

Saat kulirik matamu

Rasa itu timbul lagi

Hal ini sungguh menjadi beban

Setiap kali aku melihatmu

Paras wajahmu, rambutmu

Bahkan suaramu

Semua itu berpadu di dalammu

Dan itu sangat membebaniku

Inginku berbicara dihadapanmu

Tetapi itu sangat sulit

Karena dengan jauh saja

Engkau telah membuatku tak dapat berkata – kata

Inginku menyentuhmu

Tetapi itu tak akan mungkin

Mendekatimu saja aku tak berani

Karena aku malu

Tetapi parasmu

Membuatku merasa bahwa engkau dapat

Dapat menyejukkan hidup ini

Tetapi rasa itu semakin menjadi – jadi

Dan menjadi beban buatku

Beban yang sangat berat

Karena aku tidak akan mungkin memilikimu

Tak akan pernah


                                                                                                 by:Eric Unog